20 Oktober 2020

Lewo Ema Bapa

 Cerpen-Sil Leton

 

Akhirnya di sini, di tanah ini, di kampung kecil Uluwai yang berada tepat di bawah kaki gunung Ile Mandiri, kunikmati hawa alam yang beraroma sukma, meski tidak lagi seperti pada permulaan.


Kampung yang kaya akan sastra lisan yang kemudian menghasilkan tradisi lisan, karena memang dilisankan sejak dahulu kala dari mulut ke mulut, dari telinga ke telinga dan dari zaman ke zaman lantas menjadi sebuah kebudayaan.

Budaya yang tidak hanya terbatas pada seremonial penghormatan terhadap wujud tertinggi, Rera Wulan-Tana Ekan yang tidak lain adalah gambaran kehidupan spiritual nenek moyang di masa lampau, akan tetapi meninggalkan juga sastra lisan tentang tata kelola kehidupan bersama, tentang nyanyian dan tarian, tentang prosa dan puisi.

Ini semua merupakan gambaran ihwal kehidupan nenek moyang di masa di mana mereka belum mengenal tulis dan baca, belum mengenal apa-apa, sehingga segala bentuk sastra lisan yang hidup dan berkembang hingga kini, semuanya sarat makna.

***
Ketika pada satu kesempatan di musim tanam tahun dua ribu delapan. Musim di mana para petani bersukaria menikmati beceknya bumi untuk menumbuhkan padi dan jagung dan mestinya ketika itu pula terdengar riuh redah nyanyian di petak ladang saat gotong-royong petani menyiang di ladang, tahun itu tidak dinikmati.

Tanah kering! Padi dan jagung merana di tengah ladang tanpa harapan. Petani tampak mulai gelisah dengan kondisi alam tahun itu karena apa hendak diharap, semesta belum mengizinkan itu.

"Keadaan ini tidak boleh berlangsung lama, kita mesti ambil langkah secepatnya," kata kakek Diken, seorang sesepu kampung ketika berduaan pada suatu pagi.

"Dengan cara apa? Ini alam punya kehendak, Kek."

"Itulah, Ba ... jika kita hidup berdamai dengan alam, dia pasti memberikan segala yang terbaik untuk kita," ucap kakek Diken diselingi batuk-batuk ringan, "kita mesti memohon kepada Rera Wulan-Tana Ekan," sambungnya.

"Tapi di mana kita mesti memohon? Di gereja, kah?" Tanyaku mulai penasaran.

"Di atas puncak Ile Maindiri Tana Lolon-Woka Talu Suban Ban Doni, Ba."

Aku semakin mendekat ke arahnya di atas bale-bale bambu di bawah pohon nangka belakang rumahnya ketika mendengar cerita bernuansa historis.

Di puncak inilah ada dua insan yang terlahir dari tetasan telur burung raksasa. Koda Lian Nurat-Nura Ulu Nama dan Watowele Ata Utan sebagai kakak beradik.

Mereka tidak punya siapa-siapa. Dua Bayi mungil itu hidup tanpa ayah dan ibu jauh di atas puncak sebagai manusia perdana.

"Kek, lalu siapa yang membesarkan mereka?" aku mulai bertanya lagi.

"Inilah bukti kemurahan semesta yang tidak dapat diselami oleh akal manusia," jawabnya.

Lian Nurat dan Watowele tumbuh dan berkembang tanpa ayah dan ibu di atas puncak gunung Ile Mandiri, dan tempat itu pula dijadikan mereka sebuah kampung halaman yang diberi nama Eli Lama Tiwa-Tanah Lotak Lelu Arin.

Pikiranku mulai menerawang jauh ke atas puncak, turun ke lembah menyusuri alur kisah ini. Ternyata sebuah tanah lapang di puncak gunung yang kini di kenal dengan gunung Ile Mandiri, ada roh yang bisa menghidupkan kehidupan manusia perdana.

"Kek, kalau begitu tidak salah juga kalau kita pergi ke sana untuk memohon hujan, ya," tanyaku memancing ceritanya.

"Iya, Ba, di sana terbukti ada penolong yang menghidupkan Lian Nurat dan Watowele," jawabnya meyakinkan.

***
Jumat pagi-pagi sekitar jam tujuh lewat seperempat, rombongan orang muda yang ditugaskan ke puncak sudah siap. Seremonial dimulai di Koke-bale.

"Koke Tobi-Bale Bao.
Tobi owe te gelete-Bao owa te geluor."

Aku pun turut dalam rombongan itu. Dalam pendakian ke puncak, kadang harus melewati jurang yang terjal, menyusuri jejak tetua yang pernah berhasil sampai ke puncak, akhirnya sampai juga ke tempat yang di tuju, pada jam empat sore.

Menyaksikan sendiri sebuah tanah lapang yang luas di atas puncak, ditumbuhi pohon-pohon yang hidup berabad-abad tahun yang lalu berasa menyeramkan.

Seketika aku membayangkan apa yang diceritakan kakek Diken tentang tanah leluhur ini. Kutebarkan pandangan ke langit, namun tidak sekeping langit pun kudapati, karena terhalang oleh rimbun dedaunan yang enggan gugur.

Aku tertunduk memandang onggokan batu menyerupai mesbah dan sebuah batu tua berbentuk kursi yang ada tepat di tengah tanah lapang itu, membuatku semakin yakin bahwa Lian Nurat dan Watowele sungguh hidup di tanah ini.

Acara pemberian sesajen segara kami mulai diikuti dengan mendaraskan Maran-moken sebagai doa permohonan hujan.

Joni, salah seorang di antara rombongan yang ditugaskan, mulai mendaraskan doa.

"Pole Ratu Doni, Rera-wulan
Nini jaja pi tana ekan
Wan pulupito lodo hau
Wade pululema gere haka

Koda Lian Nurat-Nura Ulu Nama
Jadi mo'en Baipito-dewa Nara Ledu Lema

Kame Ban Powa-Pama Nara
Tobo mege-pae manga
Tobo kame lewo Ema-pae kamen tana Bapa

Kame ribun ratu aja dene kolowai,
Kame hugu pupu-kame baduk boma
Kame soba sugu leta heren,

Leta kame uran kuluk
heren kame kowa lepan
Kowa lepan rogo rere-rere
Uran kuluk keni-keni

Lodo tuho nogo ema
Ho'in ha'e di, puken perite dike sare
Puhun wuan di mege manga

Segera sesuda selesai mendaraskan doa, suasana berangsur remang, kami pulang melintasi lagi jejak yang tadi. Sesampainya kami di Parasida, tiba-riba mendung datang. Tidak butuh waktu terlalu lama, bumi diguyuri hujan.

***
Keesokan harinya, aku berusaha kembali menemui kakek Diken. Ngobrol-ngobrol ringan mulai lagi.

"Kakek, sudah minum kopi?"

"Sudah, Ba... tadi sebelum nenek Barek ke kebun."

"Baiklah, kalau begitu," ucapku sambil menyodorkan rokok u-mild.

Sengaja aku ceritakan kepadanya pengalaman pertamaku, sampai ke puncak pada ritual memohon hujan kemarin, supaya bisa dengar lagi ceritanya.

"Ba, sekarang kamu percaya tidak?"

"Apa itu, Kek?"

"Hujan yang dikhawtirkan, sekarang mulai turun bukan?"

"Benar, Kek."

"Ingat, Ba, kami sudah mulai tua, kamu mesti belajar banyak dari alam dan berlaku ramah kepada semesta, karena di sanalah gudang kehidupan," katanya menasehatiku.

Sambil membenarkan kaca mata tua yang hampir jatuh, dia memulai lagi ceritanya. Sesekali aku mengalihkan ceritanya dengan bergurau, sehingga walau pun hanya kami berdua, suasananya tetap hidup.

Lian Nurat tumbuh menjadi Seorang pemuda berperawakan seram karena sekujur tubuhnya dibaluti bulu yang lebat, sementara Watowele menjadi seorang gadis nan rupawan.

Berlari anganku mengejar bayangan tentang apa yang mereka kerjakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

"Mereka belum mengenal bercocok tanam, karena memang dengan cara apa mereka berladang? Sedangkan mereka belum mengenal apa-apa."

Segala jenis binatang dan tanaman liar menjadi sahabat sekaligus menjadi bahan makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua.

Ada suka dan duka, ada pula hal yang tidak berkenan yang mereka alami selama di sana. Mengalami hal-hal yang sedemikian itu sehingga pada suatu kesempatan Lian Nurat dan Watowele memutuskan untuk berpisah.

Watowele kemudian mengembara ke arah timur puncak, sedangkan Lian Nurat ke arah barat. Mereka pergi tanpa tujuan.
Entah kemana!

***
Lian Nurat menyusuri jejak binatang liar. Naik gunung, turun lembah menyusuri jejak itu dan akhirnya berhentilah ia di sebuah tempat bernama Bura Sabok.

"Rupanya tempat ini, baik untuk ditempatinya."

Pada suatu malam nan dingin, dalam lelapnya dia bermimpi melihat seorang gadis dari negeri Kukung Lewo Pulo-Tana Bala Lolon Ribu. Seorang gadis yang memaksa nalurinya untuk bertemu.

Dia terbangun dan mengarahkan pandangnnya jauh ke alam sana untuk mencari di manakah gerangan gadis yang tadi datang manghampirinya dalam mimpi itu.

Ternyata oleh bola matanya yang tajam, didapatinya seberkas kepulan api yang mengepul membumbung tinggi jauh di ujung barat laut dekat pantai.

"Ada asap tentu ada yang menyulut api, dan di sana pasti ada kehidupan," gumamnya.

Pemilik tubuh perkasa itu nekat untuk pergi mencari si gadis dalam mimpinya itu. Pergilah ia menuju ke sumber api yang dilihatnya.

Pengembaraannya hanya satu tujuan yaitu untuk menemui asap api yang dilihatnya, karena ia yakin, gadis yang datang dalam mimpi itu ada di sana.

Bertualang dalam keadaan alam yang belum pernah terjamah, melintasi lembah, bukit dan ngarai hingga ke tempat tujuannya, tentunya tidak semudah yang dibayangkan.

Dalam petualangnnya ke arah barat laut, didapatinya bahwa sudah ada banyak manusia yang hidup di sekitar lintasan pengembaraannya.

Tibalah Lian Nurat di tempat tujuannya pada keesokan harinya menjelang malam.

Ternyata di tempat ini juga hiduplah sepasang manusia kakak beradik dan benar, gadis inilah yang datang dalam mimpinya.

Mereka lalu terlibat dalam percakapan untuk memperkenalkan diri. Suban Wela Hawa dan Hadung Boleng Teniban Duli.

Pertemuan sesama manusia perdana yang hidup di wilayah yang berbeda ini sungguh mengagumkan. Betapa tidak, seorang yang datang jauh dari puncak gunung Ile Mandiri boleh bertemu dengan mereka yang hidup di Kukung Lewo pulo, adalah sebuah tekat yang hanya ada pada jiwa seorang petualang.

Malam semakin larut, Lian Nurat menyampaikan maksud hati kehadirannya kepada Suban Wela Hawa saudaranya.

"Apa itu?"
Ternyata ia ingin mempersunting Hadung Boleng-Teniban Duli si gadis yang telah hadir dalam mimpi.

Bertiga hening sejenak di kesunyian malam, hanya terdengar suara binatang liar di sekelilingnya, sampai akhirnya Suban Wela Hawa menyetujui maksudnya.

Tetapi Lian Nurat mesti memenuhi satu syarat, yakni bersihkan sekujur tubuhnya dari bulu, supaya kami boleh mengenalmu secara lebih jelas.

Lian Nurat menyanggupi itu. Tetapi tidak di sini.

"Di mana?"

"Di Bura Sabok."

Keesokan harinya, pagi-pagi buta mereka bergegas. Bukan hanya Lian Nurat dan Hadung Boleng, tetapi Suban Wela Hawa pun turut menghantar saudarinya ke sana.

Mereka tiba di tempat tujuan dengan selamat.
Malam tiba, mereka terlelap dalam keheningan malam sampai pagi datang menjemput didapatinya Lian Nurat sudah dalam keadaan bersih.

Setelah menyaksikan kepatuhan Lian Nurat terhadap janjinnya sebagai syarat mempersunting Hadung Boleng, Suban Wela Hawa lalu pergi meninggalkan mereka berdua sebagai sepasang sejoli.

Dalam hidup bersama di tempat inilah lahir ketujuh anak yang kemudian diberi nama Belawa Burak, Keweluk, Kewaka, Ban Powa, Beliti Hingi, Hewa Molik dan Mado. Sejak saat itu mereka menamakan keluarga ini, Baipito.

Mereka hidup harmonis dalam sebuah keluarga yang besar. Tidak ada pendidikan formal yang diperoleh. Mereka hanya mengandalkan semesta sebagai tempat sekaligus guru.

Mereka belajar dari alam di segala aspek kehidupan. Menciptakan karya-karya yang kemudian dilisankan hingga kini. Tata nilai dalam pergaulan, budi pekerti, sosial, politik, ekonomi dan seni.

Dalam keharmonisan hidup mereka, tetiba ayah mereka jatuh hati kepada seorang gadis yang berasal dari Soge Kewa. Uto Wata Teluma Burak.

Sejak itu, Baipito mulai hidup secara nomaden. Mereka ke tempat yang baru bernama Wa'o Lama Botin-Au Lama Bubu.

Namun hidup tidak selalu indah.
Hadung Boleng dan Uto Wata saling cemburu sehingga hari-hari selalu diwarnai pertengkaran. Akhirnya, Uto Wata lebih memilih pergi dari mereka untuk kembali ke kampung halamannya.

Menyaksikan peristiwa larinya Uto Wata ke kampung halamannya ini, menyulut kemarahan saudaranya di sana, lalu akhirnya mereka datang dalam pasukan untuk menyerang dan terjadilah pemberontakan yang luar biasa hingga mengorbankan Lian Nurat. Lian Nurat tewas pada peristiwa ini.

***
Semenjak ayah mereka wafat, Baipito secara mandiri mengurus keluarga meskipun hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Sempat berpindah dan menetap di Alo Kote, kemudian di Twa'u Lama Bolan, di Eko Puken Lian Langun, kemudian ke Beluhur Wojon Tobo-Temetik Uran Toa, akhirnya di Tiwa Belen-Bawa Blolon.

Di kampung yang terakhir inilah tejadi pemberontakan yang hebat antara Baipito dan Paji.

Baipito merasa disaingi oleh sekelompok orang yang mulai membanjiri daerah lereng untuk menetap.

"Jika ini dibiarkan, maka mereka akan menguasai seluruh wilayah ini."

Baipito lalu mengatur siasat untuk bagaimana bisa menghalau orang-orang ini. Sebagai panglima dan pemangku kekuatan pasukan, dipercayakan kepada Kewaka. Pemberontakan pun tidak dapat dielakan lagi.

Pasukan Baipito tidak berhasil memukul mundur pasukan paji, meskipun ada korban dari pihak lawan, tetapi karena yang dibunuh adalah perempuan, maka hukumnya haram.

Akhirnya Baipito kembali mengatur siasat, sekali lagi menentukan siapa yang paling pas sebagai panglima dan sekaligus pemangku kekuatan pasukan. Mereka bersepakat diberikan kepada Ban Powa-Pama Nara.

Pasukan Baipito melancarkan serangan lagi terhadap lawannya. Terjadi pertempuran lebih hebat dari yang pertama karena masing-masing pasukan sudah menyiapkan strateginya secara matang.

Pada akhirnya Kewaka berhasil membunuh raja Kuda Belang Polohae, seorang panglima perang yang memimpin pasukan paji.

Baipito berhasil memukul mundur paji hingga ke Keteki Kaungala wilayah pesisir pantai. Untuk memastikan bahwa paji tidak boleh ada yang tersisa di wilayah ini, Baipito kemudian dibantu oleh sekutunya Lado Majon, Bala Manuk yang saat itu sudah berada di pantai mengatur siasat untuk membakar air laut.

"Kok bisa?"

Baipito bersama sekutunya membentuk sebuah gundukan dari kayu-kayuan menyerupai kapal besar di atas air laut.

Pekerjaan ini dilakukan selalu pada malam hari, sehingga tidak diketahui musuh. Tidak lama berselang, mereka berhasil, menghasilkan sebuah gundukan seperti kapal kayu raksasa.

Malam yang disepakati tiba, pergilah mereka ke laut untuk membakar gundukan yang berbentuk kapal raksasa itu.

Api menjalar begitu hebatnya sehingga menghasilkan gemuruh yang luar biasa dari lautan. Paji mulai terdesak karena ketakutan akan diserang lagi oleh pasukan Baipito, akhirnya mereka lari menyingkir tanpa ada yang tersisa.

Atas dasar keberhasilan Ban Powa sebagai panglima perang dan pemangku kekuatan pasukan Baipito dalam mengusir paji inilah, kemudian Baipito menobatkan Ban Powa sebagai Ema Bapa meskipun ia anak keempat dari Lian Nurat.

"Segala keturunanmu akan disebut Ema-Bapa."

Sejak saat itu, setelah merayakan kemenangannya, mereka bersepakat untuk membagi wilayah kekuasaannya masing-masing.

Belawa Burak sebagai kaka sulung, menguasai tanah Loba Dike-Hulo Loa sekarang desa Lewoloba.

Keweluk Bera Sodo Bera-Sodo Bera Baan Nara, menguasai tanah Daton Wailolong-Tana Hulo Beloni Bala, sekarang desa Wailolong.

Kewaka Ile Ale-Keboun Wawe Utan, menguasai tanah Hulo Hala-Tana Gokok Nara Hinga sekarang desa Lewohala.

Ban Powa-Pama Nara, menguasai tanah Tiwa Kesin-Bawa Reren sebagai kampung pertama kemudian nomaden hingga akhirnya menetap di Uluwai Nara Selan-Wai tawa makok tukan-Helan gere buli lolon lalu menjadi desa Mudakeputu.

Mado Liko Wutun-Roha Bahi Lamen, menguasai tanah Wato Guti-Ena Jaeng. Oleh karena pada saat pembagian penguasaan wilayah itu usianya belum dewasa, maka Mado dititipkan kepada Ban Powa sampai dianggap mampu mandiri. Sekarang desa Tiwatobi.

Sedangkan saudari mereka, Beliti Hingi menikah dengan seorang pemuda dari Soko Dua Rua- Wedo Ale Gole, daerah sekitar Bukit Seburi-Adonara Barat.

Sementara, Hewa Molik dipersunting oleh seorang pemuda dari Beloaja-Tanjung Bunga.

Tidak terasa waktu ngobrol kami hingga tengah hari.

"Aku pamit dulu, kek, besok baru disambung."***



Bersambung

0 Komentar

Kontak Kami

Desa Mudakeputu Kecamatan Ile Mandiri Kabupaten Flores TImur - NTT

Pencarian

Social Media

Statistik